Minggu, 29 Maret 2009

Yang paling Saya Takuti

Yang paling saya takuti setelah profesi guru ada pada pundak ku

1. Menyuruh Anak didiku disiplin
Sementara saya sendiri, disiplinnya kurang baik
2. Menyuruh anak didik ku berambut pendek dan rapi
Sementara rambut ku gondrong dan acak-acak an
3. Menyuruh anak didikku rajin belajar dan membaca
Sementara saya sendiri jarang membaca bahkan tidak mau mengembangkan kemampuan diri dengan cara banyak membaca
4. Menceritakan betapa penyakit korupsi merupakan bahaya laten
sementara hak anak-anak didik untuk sarana dan prasarana saya makan.
5. Menyuruh anak-anak didikku berpakaian rapi dan bersih
Sementara pakaian saya sendiri acak-acakan terkadang di strika saja tidak?
6. Mengharapkan anak-anak didikku berhasil dalam hidup dan kehidupan
sementara anak-anak kandungku gagal dalam hidup dan kehidupan
7. Melarang anak-anak didik membuka situs-situs yang merusak moral
sementara saya sendiri mau, membuka situs-situs yang membahayakan moral
8. menganjurkan anak-anak didikku tidak meninggalkan sholat
sementara sholatku tidak terib
8. menganjurkan anak-anak didikku hormat kepada orang yang lebih tua dan
guru

sementara saya tidak/kurang hormat kepada orang yang lebih tua/guru
10.Mengajarkan anak-anak didik selalu bersih lingkungan
sementara saya sendiri tidak peka dan sensitif terhadap kebersihan lingkungan
11. Menganjurkan kepada anak-anak didik ku supaya selalu mensyukuri nikmat.
sementara saya masih saja sombong dan congkak dengan nikmat dan anugrah yang di telah di limpahkan Allah kepada ku.

Entah hukuman apa yang akan di timpahkan Allah kepada saya bila pintu-pintu munafik ada dalam diriku
hanya do'a Na'uzubillahi minzalik, semoga Allah akan selalu melimpahkan rahmat, petunjuk_Nya kepada kita semua terkhusus kepada rekan-rekan guru.

Rabu, 21 Januari 2009

Info terbaru untuk rekan guru se indonesia

Alhamdullillah Pemerintah lagi-lagi memayungi hukum bagi rekan seluruh indonesia dengan terbitnya PP 74 tahun 2008 menurut saya sebaiknya Bapak/Ibu membaca, memahami dan melaksanakan seluruh isi dari PP 74 tersebut (maaf sekedar saran, agar kita bisa menjadi guru yang memang dapat diharapkan oleh masyarakat, orang tua siswa serta keingingan negara, untuk mendownload PP tersebut silahkan klik link berikut download disini selamat berjuang kepada seluruh rekan guru di indonesia, semoga kita dapat mengantarkan anak-anak didik kita ke jalan kebenaran, dapat membangun dirinya serta membangun masyarakat seperti yang di contohkan oleh Rasul-Rasul Allah amin

Kamis, 04 Desember 2008

Untuk Kita Renungkan

Bapak Proklamator ( Bung Karno) pernah berkata " Beri saya tiga anak serta beri saya Fasilitas untuk mendidik mereka, akan saya buat mereka merobah dunia"

Apa yang tersirat dari kata-kata beliau ?

Kalau menurut saya, faktor guru dan fasilitas lebih dominan dalam membentuk keberhasilan anak-anak didik/ atau keberhasilan dalam dunia pendidikan, guru tidak lah mutlak orang hebat dalam segala hal, tetapi yang terpenting dedikasi dan ke-ihlasan dalam mengajar (PC Media edisi Desember 2008)

Entah menurut anda .....?



Rabu, 26 November 2008

PGRI dimana Payung MU ?

Pada tanggal 25 Nopember, diseluruh Indoensia diperingati Hari Guru secara Nasional, banyak berita-berita di surat kabar yang memberitakan kejadian pada hari Guru tersebut, di OKU Timur guru-guru hornas berdemontrasi menuntut agar segera diangkat menjadi PNS, di Jakarta, guru-guru berdemo menuntut pengesyahan peraturan Pemerintah seputar perbaikan gaji guru.

Tema peringatan hari guru pada tahun ini, di gembar gemborkan, "Guru yang profesional, bermatabat, terlindungi, dan sejahtera",

Guru yang profesional, menurut saya guru harus sangat meneria segala konsekwensi akibat tugas yang dilaksanakan disamping itu juga ke profesionalan guru tidak boleh di kekang dengan segala macam aturan-aturan yang membelengu kreatifitas guru, yang pasti guru harus emegang tujuan akhir dari pendidikan, tujuan akhir institusi, tujuan akhir dari program diklat yang diajarkan, yang semuanya itu mengarah kepada Tujuan Pendidikan Nasional, yang diantaranya, membangunan manusia yang bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat membangun dirinya dan bersama-sama membangun masyarakat, berkepribadian dst.

Bermatabat dan terlindungi

Martabat guru, tidak mungkin terlepas dari kehidupan ekonomi rumah tangga guru, setelah beberapa tahun yang lalu PGRI Pusat memayungi dan bergerak dengan dengan segala astributnya menuntut perhatian pemerintah untuk memperhatikan nasib guru berupa kenaikan gaji, alhamdullah secara bertahap nasib guru telah beangsur baik,
terlindungi
memang terdenngar menyejukkanbagi guru, sebab guru di dalam melaksanakan tugasnya sebagai Pendidik tidak sedikit kejadian-kejadian yang sangat beresiko, suatu contoh, bila menghadapi anak-anak didiknya yang sangat nakal, guru terkadang memberikan hukuman berupa pukulan yang bersifat mendidik, tetapi dalam kenyataan ada sebagian orang tua yang tidak rela bahkan urusan tersebut sampai dengan pengadilan, hal ini disebabkan oleh arogansi orang tua murid yang merasa mampu, merasa kaya dan merasa .... merasa lainnya , yang menganggab guru sebagai orang yang lemah. ditambah lagi wartawan yang sok jurnalis, sejati tetapi berprilaku bak preman yang mengamcam mepublikasikan kasus dengan tulisan yag miring.

lalu pada saat kejadian tersbut PGRI yang merupakan Payung organisasi guru, apa tindakan yang di ambilll?

Kalau di PGRI Pusat berusaha mengangkat martabat guru, lalu Apa yang dilakukan PGRI - PGRI Daerah, jangan-jangan cuma pelengkap kehidupan Politik pemburuh jabatan semata ...?(wallahhu alam bisawwab)

Saya sebagai anggota, besar harapan kami kepada Bapak-Bapak Penggurus PGRI, Kami Butuh Payung, Kami Butuh Perlindungan dalam bertugas, kami butuh tempat menyampaikan permasalahan-permasalahan kami dalam tugas dan nasib-nasib kami, hanya kepada Bapak-Bapak Penguruslah kami berharap, dengan di iiringi do'a semoga Bapak-Bapak pengurus dapat bertugas sesuai dengan amanat yang di pikul. amin

Sabtu, 22 November 2008

Beberapa Kasus Yang Mengelitik Seputar Perbaikan nasib Guru

Menyimak perkembangan perhatian pemerintah saat ini, semenjak di berlakukannya Undang-Undang Guru dan Dosen, salah satunya perbaikan nasib guru dan Dosen yaitu adanya penghasilan tambahan dalam wujud pemberian tunjangan propesi, ada penomena yang beragam setelah cairnyanya tunjangan profesi tersebut, kalau saya perhatikan rekan-rekan yang telah menerima tunjangan profesi pendidik rata-rata ada rasa malu, malu untuk meniggalkan tugas mengajar, malu untuk menjadi guru asal-asalan, kalau selama ini untuk meningkatkan kemampuan profesi pendidik diantaranya mempelajari perkembangan teknologi komunikasi terasa enggan, sekarang rekan-rekan ber lomba-lomba untuk belajar, berlombah-lombah untuk membeli perangkat komputer, note book/laptop dan sebagainya, hal ini menurut saya suatu hal yang sangat menggembirakan.

kalau kita perhatikan pada waktu-waktu tertentu, ada sebagian rekan guru tidak terlalu serius menjalankan tugas sebagai pendidik, entah itu disebabkan oleh untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, entah itu untuk mengangkat harkat dan martabat, sebagai orang yang pendidikan setara dengan pegawai lainnya di instansi lainnya, tetapi kehidupan ekonominya muntang manting dll.

ada hal yang cukup memperhatinkan, setelah berjalan beberapa saat tunjangan pendidik cair, tidak sedikit, timbul kecemburuan dari berbagai pihak, guru jadi pusat perhatian dan pusat cemoohan oleh kalangan lain, saya heran, mereka-mereka yang tidak mendalami profesi guru, tentu berpandangan lain, kalau menurut pandangan saya hal ini sangat wajar, dalam kenyataannya tidak sedikit maksud dari perbaikan nasib guru tersebut, tidak sesuai dengan harapan, suatu contoh, belum bisa mendongkrak mutu pendidikan, peningkatan disiplin guru dan lain sebagainya, hal tentunya kembali kepada masing masing pribadi guru, saya sangat sependapat dengan Bapak Darmaningtiyas dalam bukunya Pendidikan gila gilaan, salah satu pragraf berbunyi sebeapapun Gaji guru, bila penambahan penghasilan tersebut lebih cenderung mengarah kepada nilai nilai konsumeristik ( menunjukkan kemewahan) jangan terlalu berharap akan adanya perubahan yang signifikan terhadap mutu pendidikan. hal ini sangat berkitan erat dengan kecintaan guru guru tersebut dengan dunia guru silahkan baca juga posting saya "mengukur kecintaan terhadap dunia Guru"
kalau saya boleh berbicara, guru di dalam bertugas, kalau seluruh asfek tugas dilaksanakan dengan sempurna, hampir 2/3 waktu perhari terkuras habis, coba bayangkan sebelum mengajar, guru harus menyiapkan administrasi pendidikan, menyiapkan materi yang terkadang sampai larut malam belajar dan membaca agar di depan anak-anak didiknya nampak orang yang yang memang mampu untuk mengajar dst, menyiapkan alat-alat peraga dst, setelah selesai guru harus mengoreksi tugas-tugas siswa sampai larut malam, belum lagi bila anak-anak didiknya mengalami berbagai kasus, guru dengan kesabaran mendudukan posisi sebagai orang tua untuk mengayomi, membantu penyelesaian masalah anak-anak didiknya.

Dan yang tak kala penting untuk kita amati, dari sebagian siswa ada yang mulai berminat menjadi guru, satu sebab yang pasti, penghasilan dan pendapatan guru ada harapan menjadi lebih baik, dari pada sebelum sebelumnya, adakah kemungkinan yang menjadi guru saat ini merupakann profesi pelarian karena tidak bisa diterima di fakultas fakultas Pavorit seperti Kedokteran, Teknik ini atau itu mempunya title atau gelar Insinyur yang setelah lulus bisa bekerja dan berpenghasilan jauh lebih baik dari gaji seorang guru. perntayaannya kenapa peminat di fakultas tsb lebih banyak? karena setelah lulus ada harapan dapat kehidupan jauh lebih baik, sangat wajar akhirnya masuk ke fakultas tsb sangat sulit dan hanya orang orang pilihan saja yang bsia masuk ke Fakultas tsb.

Bila saja Fakultas keguruan menjadi Fakultas Pavorit, dan sistem penerimaan jauh dari nuansah "KKN" saya berkeyakinan, dari yang masuk sampai menghasilkan tenaga pendidik akan jauh lebih baik dan hebat. walaupun dilapangan mash perlu diuji dari dedikasi dan kecintaan terhadap profesi guru

rasanya tidak berlebihan bila perhatian pemerintah saat ini untuk memperbaiki nasib guru yang telah lama menderita, hanya saja pembangunan pendidikan tidaklah seperti seorang pesulap dengan menyebut bim salabim, perlu proses dan waktu yang relatif panjang. terasa lucu memang baru kemaren guru merasakan perbaikan penghasilan, esoknya telah banyak tuntutan di masyarakat seputar perbaikan mutu pendidikan, yang terkadang alat ukurnya masih semu. misal UN yang tidak bisa mengeneralisaikan proses pendidikan secara menyeluruh.

saya cuma berharap, semoga rekan-rekan guru yang telah lulus sertifikasi akan menambah tanggung jawab moral, akan menjadi guru yang memang bisa dapat "di gugu dan di tiru",dan kepada rekan rekan guru yang belum sempat menikmati tunjangan kiranya dapat bersabardan do'a kami semoga Bapak-Bapak dan Ibu - Ibu guru yang yang lain akan segera sama dengan rekan-rekan yang lulus sertifikasi semoga….

salam untuk rekan guru seluruh Indonesia jayalah guru-guru kuuuu